sepenggal Kehidupan Masa Kecil Penulis
Masa
kecil adalah masa yang cukup indah dalam hidupku. Suasana rumahku, yang terbuat
dari bambu yang dianyam dan dipadukan dengan papan lapuk, memberikan kenangan
tersendiri. Rumah kami berbentuk memanjang dengan teras depan yang cukup luas.
Di teras itulah saya, bersama adik dan kakak, sering bermain bersama. Di ruang
tamu, terdapat perabotan kursi rotan yang sepertinya menjadi perlengkapan wajib
sebuah rumah.
Saya
adalah anak tengah dari tiga bersaudara, dan saya merasa cukup beruntung.
Setiap pulang dari sekolah, aktivitas yang saya lakukan adalah menjual sayur
keliling kompleks perumahan. Dari jam setengah tiga sore, jika lambat, biasanya
saya baru pulang sekitar jam enam. Namun, jika cepat, saya bisa pulang lebih
awal, sekitar jam empat. Saya sering menjual sayur bersama adik, kakak, dan
teman-teman. Hasil jualan biasanya saya berikan kepada orang tua, dan jika
cukup, saya merasa senang bisa jajan seratus rupiah pada saat itu. Hidup dalam
keluarga yang pas-pasan membentuk saya menjadi anak yang tangguh ketika dewasa.
Aktivitas ini saya lakukan sejak usia lima tahun hingga tiga belas tahun—waktu
yang cukup lama.
Memiliki
orang tua yang pekerja keras dan sabar adalah kunci saya bisa tumbuh dengan
baik. Di balik semua itu, masa kecil bersama teman-teman di sekitar rumah tetap
menjadi yang paling menyenangkan. Belum ada teknologi yang memisahkan kami;
kami berinteraksi secara langsung. Kami bermain petak umpet, lompat karet,
lompat tali, bermain enggrang, layangan, dan lain-lain. Jika tidak ada sayur
yang dijual, saya bisa bermain dengan puas bersama teman-teman desa.
Salah
satu kenangan paling berkesan dan lucu adalah saat bermain petak umpet. Suatu
ketika, giliran saya yang menjaga. Adik saya ikut bermain, meskipun dia masih
kecil dan belum tahu betul aturan permainan. Kakak dan teman-teman yang lain
juga ikut bermain. Saat saya mulai menghitung hingga dua puluh, saya memberi
mereka kesempatan untuk bersembunyi.
Cepat
sembunyi! Saya hitung, satu…. Dua…. Tiga….. !” teriak saya dengan semangat.
Setelah
menghitung, saya mulai mencari mereka. Namun, teman-teman saya yang lebih besar
secara fisik dan usia sering kali lebih cepat sampai ke tempat jaga. Jika saya
menemukan mereka, kami harus berlomba kembali ke tempat jaga. Jika mereka lebih
cepat, saya harus mulai dari awal.
“cop
anto,!” teriak saya kepada satu teman saya sambil berlari menuju tempat jaga.
Saya
berusaha sekuat tenaga untuk mengejar mereka, tetapi sering kali saya kalah
cepat. Tawa dan teriakan kami mengisi udara sore itu, menciptakan kenangan yang
tak terlupakan. Namun, ada kalanya saya merasa frustrasi ketika tidak bisa
menemukan mereka.
“Jaga!!”
kata anto mendahuli saya,
“hitung ko lagi.” Kata kakak saya.
Saya pun menghitung kembali dari awal..
Namun,
ada juga saat-saat ketika saya merasa sedih. Misalnya, ketika saya tidak bisa
menemukan tempat yang baik untuk bersembunyi dan teman-teman saya sudah
menemukan tempat yang lebih baik. Dalam momen-momen seperti itu, air mata saya
sering kali tak tertahan.
“Kenapa
aku selalu kalah?” saya menangis keras tanda kecewa.
Kakak
saya yang melihat itu segera menghampiri. “sudah mi, sudah mi bain, menangismi”.
Dengan begitu permaian berakhir begitu saja. Sebab waktu juga sudah sore.
Selain
bermain, saya juga memiliki tanggung jawab di rumah. Setiap hari, saya dan
kakak-adik membantu orang tua dengan pekerjaan rumah. Kami mencuci piring,
memotong sayur yang kami petik dari kebun, dan menyapu rumah. Tugas-tugas ini
menjadi bagian dari rutinitas kami, dan meskipun terkadang terasa berat, kami
melakukannya dengan penuh rasa tanggung jawab.
Kami
juga sering menikmati makanan sederhana, seperti ikan kering yang disebut lure dan kandilo. Meskipun sederhana, makanan itu terasa sangat nikmat bagi
kami. Kami sering berkumpul di meja makan, berbagi cerita tentang hari kami. Inilah
sepenggal cerita singakat kehidupan kecil saya. Mohon maaf bila kurang menarik,
semoga jadi pelajaran bagi anak anak lain agar tetap bersyukur apapun keadaan
masa kecilnya saat ini.